Apakah hak kita cuma resah gelisah tak kunjung sudah
Menjenguk ke laman harta kurnia segala yang serba indah
Memandang lewat tingkap bingkai pangkat darjat yang kemas
tak goyah
Menunduk ke lantai jerih fakir yang penuh sisa-sisa ludah
Apakah hak kita cuma sendu titis tangis yang takkan habis
Melihat tingkat-tingkat kuasa mabuk dalam kekangan kapitalis
Membilang anak-anak tangga kepayahan hidup yang tak pernah
menipis
Menyeret langkah-langkah tempang dinilai hina dipandang
sinis
Apakah hak kita cuma kata hina sumpah nista berulam dusta
Menjeling hujung mata pada tangan-tangan angkuh rebutkan
kuasa
Melirik pada rasuk-rasuk ampu angkat sokong dokong tanpa
rasa
Melutut pada rasa harus percaya kerna yakin masih bersisa
Apakah hak kita cuma perca-perca keadilan yang hampir mati
Mengangkat hakim-hakim yang buta matanya telingapun tuli
Menjulang akal-akal kayu yang menjengkal tanpa rasa peduli
Mengheret tongkat-tongkat kaku mengumpan garis-garis simpati
Apakah hak kita cuma cebis-cebis pimpin urus yang makin
pupus
Menghitung pada bilang-bilang susuk yang masih tulus
Mencongak wujud jati diri harga warga yang masih kudus
Melapik tumit percaya pada pacak-pacak yang kian haus
Apakah hak kita cuma akur membabi buta meluru melulu
Menggantung harap nasib pada janji-janji omong-omong palsu
Menumpang hinggap pada tiang-tiang hakikat yang tak mampu
Menggali liang-liang semadikan jasad-jasad harap yang telah
kaku
Apakah hak kita cuma sebagai hamba ditindas meminta belas
Atau sebagai tuan empunya pada harapan yang makin jelas
Kediaman Rasmi, Batu Buruk 18 Mei 2014
No comments:
Post a Comment